iden

Biografi

Faiza Mardzoeki 2015Faiza Mardzoeki, Penulis Naskah Teater (Playwright), Produser dan Aktivis. Sejak 2003 hingga sekarang menjalani hidup bolak-balik dua negeri, antara Indonesia-Australia. Dalam kurun waktu itu ia sempat melanjutkan pendidikannya di TAFE Sydney belajar Academic English (2005) dan Sastra Inggris serta sejarah Film di Centre for Continuing Education, University of Sydney. Ia juga sempat mengikuti program “Activating Human Rights on Arts”, Human Rights Centre, Curtin University, Perth, tahun 2003.

Dari tahun 2002 hingga 2011 ini, berturut-turut telah menjadi penggagas, produser 8 pertunjukan teater dan beberapa di antaranya naskahnya ia tulis sendiri.

Karya teater yang telah ditanganinya antara lain “Perempuan di Titik Nol”, adaptasi dari novel feminis Mesir Nawal El Saadawi (sebagai produser, 2002), “Nyai Ontosoroh”, adaptasi dari novel paling berpengaruh di Indonesia, “Bumi Manusia”, karya Pramoedya Ananta Toer, (penulis naskah dan produser 2007), “Perempuan Menuntut Malam”, bersama Rieke Diah Pitaloka (penulis naskah dan produser 2008), drama versi pendek “Rumah Boneka” karya Henrik Ibsen (produser 2010), dan “Surat-Surat Kartini”, sebuah pementasan teateral berdasarkan surat-surat Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang” (produser, 2010). Kemudian sepanjang tahun 2010-2011 ia telah sukses memproduksi teater Nyai Ontosoroh versi pendek, dengan judul baru “Mereka memanggilku Nyai Ontosoroh” (Penulis naskah dan Produser) yang sukses dipentaskan di Bandung, Jakarta (Indonesia) Amsterdam, Den Haag (Belanda) dan Anwerpen (Belgia) atas sponsor Tropentheater Amsterdam. Awal tahun 2011 ia telah menyelesaikan pekerjaan menerjamahkan dan mengadaptasi naskah “A doll’s House’ karya Henrik Ibsen ke dalam bahasa dan konteks Indonesia, kemudian melakukan study tour ke Norwegia untuk belajar tentang Henrik Ibsen dan karya-karyanya dengan dukungan dana dari Kedutaan Norwegia di Jakarta.

Ia sangat mencintai seni pertunjukan, khususnya teater. Apabila sedang bepergian, salah satu hal yang wajib dilakukan adalah nonton seni pertunjukan. Ia sudah menyaksikan beberapa pertunjukan panggung Broadway dan Off Broadway di New York, saat di Norwegia berkesempatan melihat proses produksi teater dan menyaksikan pertunjukannya. Ketika di Eropa, ia menyaksikan beberapa karya seni panggung di Amsterdam, di Berlin dan di Denmark, juga ketika di Singapura dan di Australia terutama di acara-acara festival seni internasional yang diikuti oleh peserta dari berbagai bangsa.

Kecintaanya pada seni teater dimulai ketika 1992 ikut berlatih teater dengan Wiji Tukul (Penyair yang hingga kini hilang, diculik oleh pemerintahan orde baru) bersama buruh-buruh pabrik. Beberapa tahun kemudian ia mengikuti latihan dengan Ratna Sarumpaet (Satu Merah Panggung) di produksi “Pesta Terakhir” tahun 1996.

Ia meyakini seni teater merupakan proses kerja kreatif yang bisa memberi pengertian-pengertian baru kepada individu yang melakoninya, juga kepada masyarakatnya (penonton dll) tentang persoalan-persoalan sosial dan masalah-masalah kemanusiaan lainnya.

Sebagian besar kegiatan seni yang dibuat Faiza tergerakan oleh keinginannya untuk bersuara tentang keadaan kaum perempuan di Indonesia, dan membangkitkan kepedulian serta kesadaran tentangnya. Dalam setiap kesempatan, sambil selalu siap bekerja sama dengan kaum lelaki maupun perempuan, selalu dicari pula kesempatan untuk memperkuat posisi perempuan, termasuk di dunia seni itu sendiri.

Selain teater, ia aktif di gerakan perempuan. Ia pernah bekerja di Solidaritas Perempuan-Women’s Solidarity for Human Rights- (1997-2002). Lalu pertengahan 2002, bersama teman-teman lainnya, ia mendirikan Institut Ungu, organisasi feminis untuk mempromosikan hak dan kesetaraan gender melalui medium seni budaya, ia dipercaya menjadi direkturnya. Melalui Institut Ungu ini ia telah melahirkan Festival April, yaitu Festival Seni Budaya Perempuan yang diselenggarakan pada bulan April dan kegiatan-kegiatan diskusi lainnya.

Ia juga mempunyai pengalaman lain di berbagai forum internasional di area seni dan perempuan antara lain di Brecht Forum New York (2008), Women Playwrights International Conference (2006) dan mengikuti berbagai forum Perempuan dan Hak Asasi Manusia misalnya WCAR di Durban, South Africa (tahun 2000), Action Research Class, Chiang Mai, Thailand (2002), program magang selama 2 bulan di organisasi perempuan Pihiliphina (2000), CARAM Asia, Malasyia (2000) dll. Ketika di Australia ia aktif mengikuti berbagai seminar antara lain presentasi makalah tentang “Kondisi Buruh Migran Indonesia di luar negeri” di forum Amnesty Internasional, Perth (2003) dan membuat program kegiatan budaya seperti Festival Film -Indonesian Films Corner- bersama Curtin University, Perth (2003)

Tahun 2010 ia mendirikan Pentas Indonesia, sebuah rumah seni pertunjukan sebagai wujud pengutamaannya di bidang seni pertunjukan, khususnya teater.