iden

Menghindari Seni Pertunjukan Tanpa Penonton

Jakarta, CNN Indonesia — “Menghadirkan penonton seni pertunjukan itu tak mudah!”

Demikian pernah disampaikan Maudy Koesnadi, produser teater Abang None Jakarta dalam kesempatan pelatihan bersama pegiat teater muda di Jakarta.

Dirinya pernah mengalami ketika sudah gencar promosi dan berpuas hati mendapati antusiasme di media sosial, lalu kecewa di hari H pertunjukan, karena tidak seperti yang diharapkan.

Ada juga yang ingin menonton asalkan dapat tiket pertunjukan gratis, tanpa harus keluar biaya.

Di titik ini, apresiasi penonton seni pertunjukan di Indonesia masih berada di tahap yang belum menggembirakan.

Faiza Mardzoeki, pegiat teater dari Institut Ungu berpendapat apresiasi penonton merupakan salah satu persoalan dari kompleksnya masalah seni pertunjukan di Indonesia.

“Ini tidak bisa diselesaikan instan, dan butuh waktu lama. Penonton Indonesia mesti dibangun sejak dini, dan itu dapat dimulai dari membangun kesadaran dan ketertarikan akan seni pertunjukan di sekolah-sekolah,” ujarnya.

Dengan demikian, generasi masa depan memiliki kesadaran penuh untuk menonton seni pertunjukan, tanpa terpengaruh promo ataupun arus besar kelompok tertentu. Mereka juga haus akan pertunjukan seperti sebuah kebutuhan.

Pentingnya penonton

Yudi Ahmad Tajudin pada suatu kesempatan mengatakan, bahwa seni pertunjukan seperti teater, tari dan musik belum jadi kesenian sebelum ada penontonnya. Hal tersebut diyakini sutradara Teater Garasi itu dalam pergulatannya selama hamper dua dekade di dunia pementasan.

Menurutnya, seni pertunjukan tidak seperti sastra atau lukis yang sebelum dan setelah penciptaan, pembaca atau penikmatnya akan sama situasinya.

“Dalam seni pertunjukan, mesti ada publik baru bisa disebut seni,” tuturnya.

Oleh karenanya, ada pegangan yang menyebutkan jika pertunjukan teater menampilkan tiga orang, maka penonton adalah aktor yang ke-empat.

“Reaksi penonton memengaruhi seni pertunjukan,” ujarnya.

Di seni tradisi, misalnya, ada pelakon yang merengkuh penontonnya, kayak Srimulat. Penontonnya ada juga yang melempar rokok, atau tertawa atau tidak sama sekali. Semua reaksi memberi pengaruh.

“Jadi, kehadiran dan apresiasi penonton dalam seni pertunjukan menjadi penting.”

Menyasar penonton

Menghadirkan penonton, kata Yudi, tidak sepenuhnya disandarkan pada publik atau persoalan gencarnya promosi.

Pegiat teater mestinya juga punya cara sendiri, khususnya dalam mengenali identitas kelompok, lalu bisa menyasar mana penonton dari pertunjukan yang dihadirkan.

“Karena publik pun berubah-ubah, pasca Orde Baru ke reformasi, misalnya, teater pun juga berubah cara penyampaiannya,” ujar dia.

Ia lalu mencontohkan Teater Garasi yang pada awalnya berdiri sejak 1993 di kampus Universitas Gajah Mada. Sebagai kelompok dari kampus non-seni, maka atmosfernya pun berbeda.

Masa sebelum 1998, disebut Yudi pegiat teater memiliki musuh bersama. Pasca 1998, gerak pementasan berubah dengan adaptasi karya asing, sembari mencari jawaban masihkah harus dramatik.

“Faktor berikutnya adalah mengikuti perkembangan teknologi, karena keberadaan ponsel dan digital turut mengubah peta seni pertunjukan,” paparnya.

Memetakan penonton

“Hal yang paling banyak dilupakan komunitas seni adalah mengetahui, siapa penontonnya,” ujar Yudi.

Apakah penontonnya masyarakat Jawa, atau anak muda yang suka nongkrong di Grand Indonesia? Identifikasi penonton memengaruhi arah karya pementasan.

Hal ini juga berlaku sekiranya pementasan ditujukan untuk panggung internasional, untuk orang Indonesia, atau hanya dipentaskan untuk tetangga.

Jika penyelenggara pertunjukan mampu memetakan penontonnya maka dapat dikatakan pementasan tersebut berhasil. Dengan demikian, apresiasi publik terhadap seni pertunjukan pun kemudian juga dapat terbangun secara perlahan.

Dalam hal ini, harapan akan bertumbuhnya penonton serta generasi yang melek dengan seni pertunjukan juga dapat terjadi. (rsa)

Sumber: cnnindonesia.com.