iden

Pengantar Faiza Mardzoeki, Produser, Penulis dan Sutradara “Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer”

Tentang Proses Kreatif dan Memaknai Sejarah Perempuan

Karya “Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer” dipicu oleh sebuah kunjungan ke seorang perempuan yang pernah menjadi tahanan politik ’65, pada 2010 bersama sahabat-sahabat ‘Bites’Perempuan yang kami kunjungi itu adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah gerakan perempuan Indonesia.

Perempuan itu sudah sangat sepuh, yang kemudian kuketahui berumur 87 tahun. Ketika kami datang, perempuan itu sedang tidur meringkuk ringkih di sebuah dipan yang sangat sederhana, hanya ditemani sebuah radio transistor tua. Beliau kelihatan sudah sangat rapuh. Melihat kedatangan kami. beliau masih bisa menyambut ramah, meskipun tampak sangat letih dan sakit. Semangatnya menjadi bangkit ketika kami menjelaskan bahwa kami adalah perempuan-perempuan aktivis yang ingin besuk dan ingin mendengar pengalaman dan belajar sejarah. Meskipun terbata, semangat apinya terasa begitu menyala saat menceritakan pengalaman dan kebanggaan masa mudanya.

Perempuan itu bernama Umi Sardjonomantan pimpinan tertinggi sebuah organisasi wanita Indonesia, Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Organisasi perempuan ini merupakan yang paling besar di Indonesia bahkan di dunia pada tahun 60an. Beberapa bulan kemudian, saya mendengar kabar Ibu Umi Sardjono wafat. Saya merasa bersyukur berkesempatan bertemu langsung dengan beliau meskipun hanya sekali.

Pada pertemuan itu, Ibu Umi menceritakan tentang masa mudanya, tentang organisasinya dan juga tentang kawan-kawannya. Masa muda penuh harapan yang menggelora, penuh harapan memandang negeri Indonesia. Tentang sepak terjangnya dalam kancah pergerakan perempuan di tingkat nasional dan internasional. Namun, kebanggaan masa muda itu, dengan begitu tiba-tiba dirampas hingga menggiringnya ke sebuah siksa dan pemenjaraan bahkan fitnah seksual yang hingga hari ini belum dicabut.

Sejak pertemuan itu, hati dan pikiran saya menjadi gelisah luar biasa membayangkan perjalanan ibu Umi Sardjono dan kawan-kawannya serta semua perempuan yang pernah ditahan dari satu penjara ke penjara lainnya hingga ke Plantungan akibat peristiwa politik ’65’ tersebut. Buat saya, pengalaman para perempuan itu dahsyat luar biasa, di luar batas-batas kemanusiaan yang saya pahami. Siksa batin dan fisik dihantamkan kepada mereka begitu senyap dan kejam sejak saat usia begitu muda hingga akhir hayatnya. Namun, kulihat mereka berkehendak untuk tetap tegar.

Proses Penulisan Naskah dan Penggarapan Panggung

Tidak terlalu lama, kemudian saya mulai tergerak untuk mencari tahu lebih jauh kisah para perempuan korban ’65’ itu. Lalu saya mulai melakukan penelitian kecil dengan membaca berbagai buku dan literatur sejarah. Selain itu riset lapangan dibantu oleh Irina Dayasihantara lain dengan mewawancarai para perempuan yang pernah menjadi tahanan politik ’65 di Jogjakarta, Solo, Klaten, Sragen, Semarang, Jakarta hingga mengunjungi lokasi yang dulu dipakai sebagai tempat isolasi atau pembuangan para tahanan perempuan, Plantungan. Saya juga sempat melakukan wawancara dengan beberapa eksil di Swedia dan Belanda. Selain itu, melakukan studi sederhana di perpustakaan Leiden dan Amsterdam.

Penulisan naskah drama dengan latar sejarah ’65 bukan perkara mudah. Apalagi saya adalah generasi yang lahir di tahun 70an, yang bertahun-tahun mengalami langsung era ketakutan akibat propaganda hitam tentang perempuan-perempuan tahanan politik ’65 oleh rezim Orde Baru. Apa yang dijumpai di lapangan saat melakukan riset adalah hal yang bertolak belakang dengan apa yang dijejalkan melalui kurikulum sekolah resmi yang saya alami. Selain itu kisah dan materi yang saya dapat di perjalanan riset itu sangat banyak dan beragam.

genjer2

Dengan melewati beberapa kali perubahan, akhirnya saya menemukan struktur dan plot ceritanya. Seluruh kejadian dalam drama “Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer” ini berangkat dari kisah tutur para perempuan yang pernah menjadi tahanan politik ’65 dan dari berbagai sumber catatan sejarah yang saya baca. Namun semua tokoh dan plotnya adakah fiksi. Saya mengatakan bahwa cerita drama ini terinspirasi oleh fakta sejarah.

Beruntung saya sangat didukung oleh Max Lane dan I Gusti Agung Ayu Ratih, di mana keduanya merupakan akademisi dan juga aktivis yang telah banyak melakuan studi sejarah ’65. Mereka berdua menjadi tempat bertanya saya kalau ada informasi atau catatan sejarah yang perlu penjelasan lebih lanjut. Selain itu banyak kawan lain yang telah dengan baik hati memberi masukan-masukan yang sangat berguna bagi proses penulisan naskah hingga dihidupkan dalam panggung pementasan.